Manusia merupakan
makhluk yang istimewa, ia memiliki sifat malaikat, sifat syaitan, serta membawa
sifat-sifat binatang. Jika manusia selalu beribadah hatinya selalu jernih
mengingat Allah ketika bermunajat, serta
selalu merasakan manisnya iman saat-saat tajalli, maka ia telah memiliki
sifat malaikat yang begitu kuat. Dengan demikian, ia telah menyerupai malaikat
yang tidak melanggar apapun yang iperintahkan Allah kepadanya, serta selalu
melaksanakan apa yang diperintahkan atasnya.
Maka apabila ia
menentang penciptanya, mengingkari rabb-Nya, atau menyekutukan-Nya dalam
beribadat kepada-Nya, maka sifat syaitan telah sangat kuat berada dalam
dirinya.
Sejatinya maksiat
merupakan perbuatan yang disenangi. Karena ia selalu sejalan dengan tabiat
nafsu. Ini disebabkan karena di dalam kemaksiatan tersebut terkandung
kenikmatan-kenikmatan tersendiri, yang menyebabkan semua orang suka
melakukannya. Seperti mencuri, berzina, membicarakan keburukan orang lain, dan
lain sebagainya. Karena itu tidak ada satu orangpun dari kita yang tidak perna
melakukan maksiat dan tidak merasakan kenikmatan di dalamnya. Minimal ia akan
memilih kenikmatan berbaring di atas tempat tidur daripada bangun melakukan
shalat shubuh. Namun demikian, perlu diingat bahwa semua kenikmatan maksiat
sifatnya hanya sementara. Kenikmatan tersebut akan hilang sekejap mata, yang
kekal dan abadi hanyalah siksaan karena perbuatan tersebut kelak. Begitupun sebaliknya,
rasa sakit ketika melakukan suatu kebaikan juga akan hilang, dan meninggalkan
pahala yang kekal.